Ikhtisar:IHSG ditutup anjlok 1,69% ke level 6.277,04 pada perdagangan Selasa (22/9), memperpanjang pelemahan tiga hari berturut-turut. Rupiah ikut tertekan ke Rp17.884/US$, sementara harga minyak Brent kembali menembus US$100 per barel. Pasar kini menanti keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang diumumkan Rabu siang/sore (23/9).

Daftar isiAngka-angka di Balik Koreksi
Indeks melemah 107,68 poin dari penutupan sebelumnya di 6.384,73. Padahal, IHSG sempat dibuka menguat di 6.392,34 dan menyentuh level tertinggi harian 6.423,84. Kenaikan itu tidak bertahan – indeks berbalik turun, menembus 6.300, dan menyentuh titik terendah harian di 6.258,44.
Pada pertengahan perdagangan, IHSG sempat pulih ke sekitar 6.330, tetapi tekanan jual kembali muncul menjelang penutupan dan membawa indeks berakhir hanya 18,60 poin di atas posisi terendah hariannya.
Sebanyak 533 saham ditutup turun, 139 menguat, dan 188 stagnan. Volume perdagangan mencapai 33,7 miliar saham dengan nilai transaksi Rp14,5 triliun. Frekuensi perdagangan sekitar 2,16 juta kali. Investor asing tercatat melakukan aksi jual Rp131,72 miliar di seluruh pasar.
Sektor energi menjadi pemberat terbesar, turun 3,9%. Sektor properti menyusul dengan pelemahan 2%, dan utilitas turun 1,5%. Saham-saham besar ikut tertekan: BYAN -9,71%, BBRI -3,64%, DSSA -4,39%, DCII -1,87%, dan BRMS -3,62%. Di sisi lain, AMMN, ISAT, CUAN, NATO, dan STAR membantu menahan koreksi.
Rupiah dan Minyak: Dua Beban Sekaligus
Rupiah ditutup di Rp17.850/US$$ menurut data Refinitiv, melemah 0,14% dari posisi sebelumnya Rp17.825/U$$. Rupiah dibuka di Rp17.860/US$$, lalu tertekan hingga menyentuh level terlemah harian Rp17.896/U$$. Menjelang akhir perdagangan, rupiah memangkas pelemahannya sebesar 46 poin dan berakhir di Rp17.850/US$. Kurs transaksi BI per 22 September tercatat Rp17.902. Sepanjang tahun berjalan, rupiah sudah terdepresiasi 6,8%.
Harga minyak Brent kembali bergerak di atas US$100 per barel, setelah sempat turun di bawah level tersebut. Kenaikan ini dipicu risiko pasokan di Timur Tengah, termasuk laporan serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz.
Bloomberg Technoz mencatat harga Brent naik 1,28% ke US$101,62 per barel. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) menguat 0,05% ke posisi 100,481 pada pukul 15.00 WIB.
Mengapa IHSG Terus Melemah?
Pelemahan ini bukan kejadian mendadak. IHSG sudah turun 2,85% dalam sepekan terakhir, dan sejak awal tahun melemah 27,41%. Puncak tertinggi tiga bulan di 6.686 tercapai pada 8 September, sebelum tekanan jual beruntun terjadi.
Sentimen negatif datang dari beberapa arah. Pertama, ekspektasi kebijakan The Fed yang hawkish dan yield US Treasury yang tinggi. Kedua, eskalasi geopolitik Rusia-Ukraina dan ketegangan AS-Iran.
Ketiga, kebijakan baru Bursa Efek Indonesia yang menghapus batas minimum harga saham dari Rp50 menjadi Rp1 mulai 28 September 2026 – disebut berdampak pada 46 saham berharga rendah.
Analis BRI Danareksa Sekuritas menulis, “Fokus pasar bukan hanya keputusan BI-Rate, tetapi juga guidance BI terkait stabilitas Rupiah dan ruang pelonggaran moneter di tengah higher-for-longer global.”
MNC Sekuritas menambahkan, pasar juga menanti hasil RDG BI di tengah tightening dari ECB, The Fed, dan BoJ. Dari sisi teknikal, MNC menyebut area support berikutnya dapat dicermati di 6.279, dan jika break maka IHSG akan mengarah ke 6.186-6.201.
RDG BI: Katalis yang Dinanti
Bank Indonesia menggelar RDG pada 22-23 September, dengan pengumuman suku bunga dijadwalkan Rabu. Konsensus pasar memperkirakan BI mempertahankan BI Rate di 5,75%.
Polling CNBC Indonesia terhadap 11 institusi menunjukkan delapan responden memproyeksikan status quo, tiga lainnya memperkirakan kenaikan 25 basis poin ke 6,00%.
Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai BI masih punya instrumen stabilisasi seperti intervensi spot, DNDF, NDF, dan SRBI.
“Kenaikan suku bunga menjadi lebih diperlukan apabila tekanan rupiah berlangsung persisten, arus modal portofolio terus keluar,” ujarnya. Gubernur BI Destry Damayanti disebut akan memimpin RDG ini, menurut laporan Payango.
Yang lebih penting bagi investor bukan hanya angka suku bunga, melainkan sikap BI terhadap tekanan rupiah. “Yang lebih penting justru bagaimana respons BI terhadap tekanan rupiah dan kondisi global,” kata analis teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda.
Volatilitas Tinggi, Kata Eastspring
Eastspring Investments Indonesia menyebut volatilitas pasar masih tinggi. Penurunan IHSG hari ini merupakan kelanjutan dari pelemahan setelah indeks mencapai level tertinggi tiga bulan di 6.686 pada 8 September. Pasar saat ini berada dalam tahap konsolidasi recovery.
Eastspring juga menyoroti pengesahan UU tentang Pengaturan Reforma Agraria. “Dalam jangka pendek, pelaku pasar masih mencermati detail implementasi dan aturan turunannya,” tulis mereka dalam Spring Flash 22 September 2026.
Mereka menyarankan investor disiplin menjaga alokasi aset dan diversifikasi, alih-alih mencoba menentukan titik terendah pasar.
Dari pasar obligasi, yield SBN tenor 5 tahun naik 4,45 basis poin ke 6,96%, sementara tenor 10 tahun naik tipis 0,94 basis poin ke 7,11%. Imbal hasil SBN tenor 10 tahun ditutup tidak berubah di 7,120% pada Selasa menurut CNBC Indonesia.
Divergensi dan Ketidakpastian yang Tersisa
Ada beberapa catatan yang belum sepenuhnya selaras. CNBC Indonesia mencatat rupiah ditutup di Rp17.850/US$$, sementara Kontan menulis rupiah spot melemah 0,21% ke Rp17.884/U$$. Keduanya sama-sama menunjukkan pelemahan, tetapi angka pastinya berbeda – ini wajar karena sumber data yang dipakai tidak sama.
Harga minyak juga bergerak dinamis. Bisnis.com menyebut Brent menembus US$100 pada awal September, sementara Kontan menulis harga sempat turun di bawah US$100 sebelum kembali naik. Bloomberg Technoz mencatat kenaikan 1,28% ke US$101,62. Belum ada kepastian apakah tekanan ini akan berlanjut atau mereda.
Belum ada pernyataan resmi dari Bank Indonesia mengenai keputusan suku bunga. Semua masih mengacu pada konsensus dan polling. Keputusan final baru akan diketahui Rabu siang/sore.
Apa yang Bisa Anda Lakukan Sekarang
Keputusan BI akan diumumkan Rabu (23/9) sore. Jika BI mempertahankan 5,75% dan memberi sinyal dukungan terhadap rupiah, peluang technical rebound terbuka. Sebaliknya, tekanan bisa berlanjut jika sentimen global memburuk.
Secara teknikal, IHSG telah ditutup di bawah MA100 dan MA60. Analis Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang melihat potensi uji level psikologis 6.200, dengan gap di 6.186. Namun, ini bukan rekomendasi – hanya gambaran level yang dipantau pelaku pasar.
Bagi Anda yang memegang saham berkapitalisasi besar seperti BYAN, BBRI, atau DCII, perhatikan pergerakan harga minyak dan rupiah. Keduanya masih menjadi variabel utama yang menentukan arah IHSG ke depan. Pantau juga pengumuman resmi BI melalui situs bi.go.id atau kanal berita terpercaya.