Ikhtisar:Rupiah kembali tertekan dan menembus level 17.700 per dolar AS, dengan level terendah terdekat yang pernah dicapai di 17.400.

Daftar isiRupiah di Level 17.700: Data Pasar Mengonfirmasi Tekanan
Data dari berbagai media mengonfirmasi pelemahan rupiah pada perdagangan Kamis (17/9/2026). CNBC Indonesia mencatat rupiah dibuka melemah 0,17% ke posisi Rp17.705/US$ setelah The Fed menaikkan suku bunga. Sementara itu, IDN Times melaporkan rupiah ditutup melemah ke level Rp17.753 per dolar AS, melemah 57 poin atau 0,32% dari penutupan sebelumnya di Rp17.696.
Warta Ekonomi mencatat posisi penutupan yang sama, Rp17.753, dengan rentang pergerakan harian di Rp17.725-Rp17.768. Liputan6 menulis rupiah melemah 43 poin ke 17.739 pada pembukaan. Data lain dari Bisnis.com menunjukkan pelemahan 0,38% ke Rp17.763 pada pukul 09.05 WIB.
Angka-angka ini menunjukkan rupiah konsisten berada di atas 17.700 sepanjang hari, sejalan dengan klaim di media sosial. Level 17.400 yang disebut sebagai “terendah terdekat” mengindikasikan bahwa rupiah sempat menguat ke area tersebut dalam beberapa waktu terakhir, namun kini tekanan kembali dominan.
Pemicu: The Fed Naikkan Suku Bunga Pertama Kali Sejak 2023
Pemicu utama pelemahan rupiah adalah keputusan Federal Reserve (The Fed) yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4,00%. Ini merupakan kenaikan pertama sejak Juli 2023, atau dalam lebih dari tiga tahun. Keputusan diambil bulat dengan suara 12-0 dalam pertemuan FOMC.
Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan inflasi masih terlalu tinggi. “Inflasi masih berada di level tinggi. Kebijakan yang diambil hari ini diharapkan dapat mendukung kembalinya inflasi ke target The Fed sebesar 2% secara lebih cepat,” tulis The Fed dalam keterangan resminya, dikutip CNBC Indonesia.
Warsh juga mengisyaratkan peluang kenaikan lanjutan. Pasar memperkirakan probabilitas kenaikan lagi di pertemuan Oktober sebesar 49,8%, menurut CME FedWatch. Dolar AS pun menguat, indeks DXY naik ke 100,32, menekan mata uang Asia termasuk rupiah.
Dampak ke Rupiah: Pelemahan di Tengah Penguatan Dolar
Pelemahan rupiah terjadi di tengah penguatan dolar AS secara global. Indeks dolar naik 0,64% pada perdagangan sebelumnya, dan berlanjut menguat. Dampaknya terasa di seluruh Asia: ringgit Malaysia melemah 0,56%, won Korea 0,42%, dan rupiah di posisi ketiga dengan pelemahan 0,38%.
Data perdagangan menunjukkan rupiah bergerak di rentang Rp17.725-Rp17.768 sepanjang hari Kamis. Secara year-to-date, rupiah melemah 6,43%. Dalam 52 minggu terakhir, kurs bergerak di rentang Rp16.454-Rp18.209 per dolar AS.
Menariknya, di pasar Non-Deliverable Forward (NDF), rupiah sempat menguat tipis 0,04% ke Rp17.769 pada pagi hari, sebelum akhirnya tertekan di pasar spot. Ini menunjukkan pelaku pasar mencoba defensif, namun tekanan eksternal terlalu kuat.
BI dan Pemerintah: Ruang Suku Bunga Terbatas, Fokus APBN
Di tengah tekanan eksternal, Bank Indonesia (BI) menghadapi dilema. BI telah menaikkan suku bunga acuan secara kumulatif 100 basis poin sejak Mei, sebagai langkah pre-emptive. Namun, ruang untuk kenaikan lanjutan dinilai semakin terbatas.
Menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 22-23 September 2026, ekspektasi status quo semakin menguat di kalangan analis. Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, “Menjelang RDG, sinyalemen bertahannya status quo kebijakan moneter semakin menguat.”
Di sisi fiskal, Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan komitmen menjaga APBN sebagai instrumen pertumbuhan dan stabilitas. Pengamat Commerzbank menilai Nazara, yang pernah menjabat wakil menteri keuangan di bawah Sri Mulyani, akan memprioritaskan prudensi fiskal.
Proyeksi ke Depan: Fluktuatif di Kisaran 17.750-17.790
Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan Jumat (18/9/2026), dengan potensi ditutup melemah di rentang Rp17.750-Rp17.790 per dolar AS. Ini berarti tekanan terhadap rupiah diperkirakan berlanjut.
Faktor eksternal masih dominan: The Fed mengisyaratkan peluang kenaikan lanjutan, dan inflasi AS masih di atas target. Data CPI Agustus 2026 tercatat 3,4% yoy, jauh di atas target 2%. Sementara itu, permintaan Presiden AS Donald Trump agar The Fed memangkas suku bunga ke 1% justru menambah ketidakpastian.
Di sisi domestik, fundamental makroekonomi masih menjadi perhatian. Aliran modal asing yang kembali masuk, serta arah kebijakan fiskal, menjadi faktor yang dicermati pelaku pasar. Rupiah diperkirakan akan bergerak dalam kisaran Rp17.300-Rp17.800 dalam waktu dekat.
Yang Perlu Dicermati Trader: RDG BI dan Data Inflasi AS
Bagi trader yang memegang posisi USD/IDR, ada beberapa hal yang perlu dicermati. Pertama, hasil RDG BI pada 22-23 September 2026. Jika BI mempertahankan suku bunga, selisih bunga dengan The Fed menyempit, yang bisa menekan rupiah lebih lanjut. Sebaliknya, jika BI menaikkan suku bunga, rupiah bisa mendapat dukungan.
Kedua, data inflasi AS berikutnya. The Fed menegaskan akan menaikkan suku bunga lagi jika inflasi tidak turun. Data CPI berikutnya akan menjadi katalis pergerakan dolar. Ketiga, pernyataan pejabat The Fed pasca-kenaikan, yang bisa memberi sinyal arah kebijakan.
Perlu diingat, level 17.400 yang disebut sebagai “terendah terdekat” bisa menjadi support psikologis. Jika rupiah menguat ke area tersebut, itu bisa menjadi titik entry bagi yang ingin menjual dolar. Namun, jika tekanan berlanjut, level 17.800-17.900 bisa menjadi target berikutnya.
Kesimpulan: Tekanan Masih Berlanjut, tapi Ada Ruang Defensif
Rupiah menembus 17.700 dan tekanan diperkirakan berlanjut dalam jangka pendek. Namun, fundamental domestik yang relatif stabil, ditambah ekspektasi BI yang hati-hati, memberi ruang bagi rupiah untuk bertahan. Pasar NDF yang sempat menguat menunjukkan pelaku pasar mencoba defensif.
Keputusan The Fed untuk menaikkan suku bunga adalah yang pertama dalam tiga tahun, dan sinyal kenaikan lanjutan membuat dolar tetap perkasa. Bagi trader, penting untuk memantau RDG BI pekan depan dan data inflasi AS. Pergerakan rupiah akan sangat ditentukan oleh dua faktor tersebut.
Sumber Informasi
- CNBC Indonesia
- IDN Times
- Warta Ekonomi
- Bisnis.com
- Persen.id
- Trading Economics